KOMPAS, Rabu 11 Januari 2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/11/humaniora/2354877.htm
Memupuk Keunggulan Agar Tak Tergerus Arus
Indira Permanasari
Apartemen Athen di Petchaburi, Bangkok, Thailand, bisa dibilang kampungnya orang Indonesia di kawasan itu. Kamar bernomor buntut 18, yang merupakan bagian tengah bangunan apartemen itu, “tepatnya mulai nomor 218 hingga 718” dihuni warga Indonesia. Karena kamar di tengah yang paling besar, jadi kami sewa di situ. Saking banyaknya orang Indonesia di apartemen ini, tom yam kung (sup udang berempah khas Thai) di kantin bawah rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia,” ujar Sarjiya, salah satu penghuni apartemen itu, sambil tertawa.
Pada malam hari, lorong di depan kamar-kamar apartemen itu digelar tikar dan mulailah mereka membuka laptop untuk sekadar berselancar di internet, mencari bahan kuliah, atau menyelesaikan tugas. Sebagian penghuni apartemen memang warga Indonesia yang tengah belajar mengambil program master atau doktor di sejumlah universitas di Bangkok. Mereka umumnya adalah staf pengajar di sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air yang dikirim dalam kerangka kerja sama antarperguruan tinggi di Asia Tenggara.
Sarjiya, misalnya, adalah staf pengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang mengikuti kuliah program doktor jurusan elektro di Universitas Chulalongkorn. Dia mendapat beasiswa dari JICA dalam kerangka ASEAN University Network/Southeast Asia Engineering Education Development Network (AUN/SEED-Net) untuk menempuh pendidikan selama dua tahun di Bangkok dan kemudian berlanjut ke Jepang. “Perguruan tinggi di ASEAN saling bertukar staf pengajar dan disesuaikan dengan keunggulan masing-masing,” katanya.
Itu hanya merupakan salah satu kerja sama internasional yang telah berkembang di antara perguruan tinggi. Untuk mempererat hubungan, khususnya di antara perguruan tinggi, akhir tahun lalu, Kedutaan Besar Indonesia di Thailand sempat mengumpulkan 44 perwakilan perguruan tinggi di Indonesia dan 40 wakil dari Thailand.
“Saya melihat dalam beberapa hal Indonesia punya potensi serupa dengan Thailand. Untuk membangun masyarakat di kedua negara, perguruan tinggi sebagai agen perubahan dapat berperan maksimal,” kata Duta Besar Indonesia untuk Thailand, Ibrahim Yusuf.
Di era globalisasi, kecenderungan kompetisi sekaligus saling ketergantungan menjadi lebih kuat, termasuk di kalangan perguruan tinggi. Hanya saja, agar mempunyai posisi tawar seimbang dan kompetitif baik secara nasional maupun internasional, perguruan tinggi harus mampu mengembangkan keunggulannya masing-masing. Kondisi ini telah disadari perguruan tinggi di Thailand. Kampus Universitas Mahidol yang merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Thailand misalnya, telah lama berkonsentrasi mengembangkan keunggulan di bidang kedokteran, tropical medicine, dan kesehatan publik.
Sejak 1960-an, menurut Pornchai Matangkasombut, President Universitas Mahidol, banyak mahasiswa asing ”khususnya asal Indonesia” menimba ilmu di sana. “Terutama bidang tropical medicine, hygine, dan reproductive health. Mahasiswa Indonesia pertama kali ke Mahidol tahun 1968,” ujarnya. Keunggulan lain yang berupaya dikembangkan universitas tersebut ialah Program Studi Hak Asasi Manusia yang berperspektif Asia. Jurusan tersebut, menurut Pornchai, kini mulai menarik banyak mahasiswa dari luar Thailand.
Pimpinan Universitas Rangsit, Arthit Ourairat, juga menyadari bahwa globalisasi harus dihadapi dengan mengembangkan keunggulan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itulah Universitas Rangsit memperkuat basis keilmuan agrikultur. “Banyak yang lari dari agrikultur dan menganggap sektor itu inferior. Padahal, buat kita di Asia yang sebagian besar merupakan negara agraris, ilmu itu potensial,” ujarnya.
Agrikultur tidak terhenti kepada isu pangan saja, tetapi dapat diperluas ke bidang lain seperti pengembangan energi alternatif terutama biofuel. Seperti juga Indonesia, ketergantungan Thailand dengan bahan bakar minyak sebagai penghasil energi sangat kuat. “Dengan pertimbangan tersebut, Universitas Rangsit ingin berkonsentrasi pada berbagai penelitian terkait pengembangan energi alternatif berbasis agrikultur,” katanya. Melihat kebutuhan akan penelitian makanan halal, Universitas Chulalongkorn bahkan mengorganisasikan the Central Laboratory and Scientific Information Center for Halal Food Development.
Saling menguntungkan
Rektor UGM Sofian Effendi yang ditemui ketika mengikuti pertemuan perguruan tinggi di Bangkok, akhir 2005, berpendapat senada. Terlalu mahal jika masing-masing universitas ingin unggul di semua bidang. Terlebih lagi dengan kondisi di Indonesia yang masih serba terbatas, terutama dalam hal pendanaan. “Untuk itu kita harus memanfaatkan kekuatan universitas lain,” katanya. Tentu saja harus ada keunggulan yang di tawarkan di antara perguruan tinggi agar kerja sama saling menguntungkan dan seimbang. Oleh karena itu, ada baiknya universitas berkonsentrasi pada bidang-bidang tertentu. UGM, misalnya, berkonsentrasi pada ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan teknik geodesi yang saat ini telah memiliki program internasional. “Bahkan, dalam bidang kedokteran tidak semua harus excellent, kita perlu memilih bidang apa yang kita kuat. Kalau kita mau menghasilkan lulusan dengan kekuatan seluruh bidang, tinggal memanfaatkan jaringan internasional tadi,” katanya.
Tanpa kerja sama akan sangat mahal mengirim sendiri staf pengajar belajar ke luar negeri. Untuk ke Australia misalnya, jika harus membiayai sendiri dibutuhkan sekitar 25.000-30.000 dollar Amerika per tahun, termasuk biaya hidup. “Di Amerika, lebih mahal sekitar 50 persen. Paling mahal di Jepang, sekitar Rp 2 miliar per tahun untuk biaya pendidikan dan hidup. Sementara di Bangkok hanya seperempat lebih murah dari Australia karena biaya hidup tidak terlalu tinggi,” katanya.
Selain memperkuat potensi keunggulan, agar dilirik di masyarakat internasional maka kampus besar seperti Mahidol dan Rangsit juga membuka program-program internasional. Di Rangsit misalnya, mereka mengembangkan beberapa program internasional seperti ekonomi, pariwisata, bisnis, teknologi informasi, penerbangan, dan kedokteran gigi. Universitas Mahidol memiliki program internasional untuk bidang bisnis administrasi, ilmu bahasa, ilmu sosial, industri pariwisata dan media hiburan. Mereka menyadari Thailand dapat menjadi tujuan belajar yang strategis. Terlebih lagi dengan biaya hidup di Thailand yang relatif lebih rendah ketimbang di Australia atau Jepang.
Namun, tentu saja pengembangan keunggulan sejumlah perguruan tinggi di Thailand terlebih dahulu didukung dengan sumber daya manusia, sistem, dan fasilitas yang baik. Dalam beberapa hal, sebagaimana diakui oleh para mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana, perguruan tinggi di Thailand lebih maju menata dirinya.
Sarjiya mencontohkan fasilitas jurnal ilmiah. Di kampusnya di Chulalongkorn, setiap jurusan berlangganan dan menerbitkan jurnal ilmiah. Mahasiswa program master dan doktor yang hendak mengadakan penelitian akhir juga terlebih dahulu harus menulis makalah yang kemudian diterbitkan oleh jurnal internasional. “Setelah di muat di jurnal internasional masing-masing bidang baru boleh menyusun disertasi. Kalau tidak, percuma saja, nanti tidak bisa ujian,” katanya.
Herlambang yang mengambil Program Studi HAM dan Pembangunan Sosial di Universitas Mahidol juga mengungkapkan hal serupa. Untuk level Asia, Mahidol atau universitas lainnya di Thailand, menurut dia, dari sisi infrastruktur cukup maju. Ini dapat dilihat dari kepustakaan yang bisa diakses secara online. Fasilitas komputer sangat memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya. Akses internet juga bisa dijangkau tidak hanya di dalam gedung kuliah, tetapi di taman-taman, lapangan olahraga atau apartemen sekitar kampus. Daya dukung mendasar di perguruan tinggi, seperti tenaga pengajar dan fasilitas tentu saja diakui menjadi semacam katalis bagi pengembangan pendidikan tinggi. Hal ini pula yang akan mendukung pengembangan keunggulan di perguruan tinggi itu. Dan, tanpa keunggulan, bisa jadi perguruan tinggi malah tergerus arus kompetisi.
No comments:
Post a Comment